Gangguan tidur yang sering terjadi misalnya insomnia atau sulit untuk tertidur,hipersomnia atau sangat mudah tertidur,dan parasomnia atau seringkali mimpi buruk saat tidur. Menurut dr Rizaldy Pinzon SpS MKes yang tergabung dalam Tim Stroke RS Bethesda Yogyakarta,ada satu lagi gangguan tidur yang berkaitan dengan pola napas yang disebut sebagai sleep disorder breathing atau SDB.
SDB yang umum dijumpai adalah obstructive sleep apnea atau OSA,yaitu suatu bentuk gangguan tidur yang terkait dengan penghentian napas selama 10 detik. Sleep Apnea merupakan berhentinya bernapas saat tidur lebih dari 10 detik karena tertutupnya saluran pernapasan,akibat turunnya lidah dan pengenduran dari otot serta jaringan lunak saluran pernapasan.Beberapa penelitian baru menunjukkan adanya hubungan antara stroke dengan OSA,”ujar dr Rizaldy Pinzon saat berbicara mengenai masalah stroke di RS Bethesda beberapa waktu lalu.
Tim stroke RS Bethesda menyebutkan ada dua macam pola gangguan napasa saat tidur,yaitu hypoapnea dan apnea. Hypoapnea ditandai oleh penyempitan saluran pernapasan 50-80% selama lebih dari 10 detik dan terjadi penurunan saturasi oksigen lebih dari 3%. Sementara apnea tidur ditandai oleh penyempitan saluran pernapasan lebih dari 80% selama lebih dari 10 detik dan terjadi penurunan saturasi oksigen lebih dari 3%.
Sedangkan apnea tidur sendiri terbgi menjadi apnea tidur obstruktif (OSA) dan apnea tidur sentral. OSA merupakan tipe apnea tidur yang paling umum. Terjadi ketika saluran udara tertutup namun ada usaha untuk bernapas. Hal ini diakibatkan oleh rileksnya otot saluran udara bagian atas,turunnya jaringan lunak,dan tertariknya lidah karena pengaruh gravitasi.
Sedang apnea tidur sentral atau central sleep apnea (CSA) terjadi pada 5-10% dari populasi penderita apnea. Gangguan ini terjadi ketika berhenti bernapas dan tidak ada usaha untuk bernapas.
CSA diketahui berhubungan dengan gangguan pada otak. CSA juga sering terjadi pada pasien gagal jantung dan penderita penyakit saraf khusus nya stroke.Tertutupnya saluran pernapasan atas lebih dari 10 detik akan megakibatkan terjadinya desaturasi oksigen dan melambatnya detak jantung. Pada saat di akhir periode apnea terjadi arousal (tarikan napas panjang atau tersedak) yang memacu meningkatnya laju detak jantung,level oksigen normal,dan terbukanya kembali saluran pernapasan.
Apnea ini bisa terjadi ratusan kali dalam satu malam,dan kadang-kadang tanpa disadar oleh penderitanya,namun disadari oleh pasangan tidurnya atau orang yang kebetulan ada di dekatnya.Menurut dr Rizaldy Pinzon,gangguan tidur obstruktif merupakan salah satu bentuk faktor resiko stroke yang baru. Kajian terkini (Drager) (2007) menunjukkan adanya peningkatan resiko stroke sebesar 2,52 kali pada penderita apnea tidur.”Hal ini juga berkaitan dengan peningkatan resiko hipertensi pada penderita OSA,” ucapnya.
Dikatakan,OSA sering ditemukan pada penderita stroke yang berhasil hidup. Sebanyak 63% dari merek yang bertahan hidup mengalami gangguan ini. Bukti pun semakin banyak yang telah menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara apnea tidur dengan stroke.
Kelelahan yang berlebihan di siang hari bisa menurunkan kemampuan dan motivasi penderita stroke untuk terus menjalankan program pemulihan.Akibatnya,latihan untuk pemulihan tidak dilakukan secara teratur,terhambatnya pemulihan dan hasilnya jadi lebih memburuk.
Lalu bagaimana dengan upaya penanganannya ? Tim Stroke RS Bethesda menyebutkan diagnosa gangguan tidur ditegakkan di fasilitas Overnight Laboratory Based Treatment Sleep Study (Complete Polysomnography).Disitu tim medis akan merumuskan tindakan tata laksana sesuai derajat gangguan tidur,pilihan pasien,status kesehatan secara keseluruhan dan harapan pasien.


![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
No comments yet.