Mar
3rd

Kontoversi Obat Puyer Untuk Anak

Files under Obat Medis,Indikasi dan kontradiksi | Posted by hananiskm

Sebagian besar penyakit pada anak di ruang praktik dokter adalah penyakit yang akan membaik dengan sendirinya (self-limited disease),tidak berbahaya,tidak memerlukan sesuatu yang lebih dari sekedar perawatan secara ketat dan hati-hati,serta hanya untuk mengurangi keluhan yang muncul (simptomatis) saja. Bahkan untuk penyakit berbahaya dengan mortalitas (dapat menyebabkan kematian)tinggi seperti diare akut dan demam berdarah dengue (DBD),yang diperlukan sebetulnya hanyalah berupa koreksi defisit cairan,bukan pemberian obat secara spesifik.

Penyakit yang menyerang anak mungkin saja sangat mengkhawatirkan bagi orang tua. Kekhawatiran tersebut lebih sering karena orang tua belum berpengalaman,misalnya karena anak pertama,belum mandiri,misalnya masih tinggal bersama mertua,atau ketidak siapan mental,misalnya ada trauma psikologis sebelumnya. Selain itu,faktor lain yang berpengaruh adalah tuntutan penyembuhan secara cepat,ketidaksabaran orang tua atau ketidak tegaan  atas keluhan atau tangisan anak,justru sangat sering membentuk persepsi orangtua yang kurang bijak terhadap penyakit anaknya.

Penyakit infeksi virus akut pada anak,akan memberikan gejala demam berulang yang naik turun,batuk,pilek,sakit menelan,nyeri telinga,muntah,rewel sampai kejang dalam 1-5 hari,bahkan mungkin saja disertai berbagai keluhan lain yang subyektif. Perjalanan alamiah penyakit sebaiknya dipahami,sebab pengobatan yang diberikan dokter tidak akan pernah dapat memperpendek masa sakit,tetapi hanya mengurangi derajat keluhan saja,orang tua yang tidak paham,tidak sabar dan tidak tenang akan cenderung berganti-ganti dokter dalam periode sakit anaknya yang sama,orang tua seperti itu sangat mudah “merayu” dan memaksa dokter sehingga memungkinkan untuk terjadinya pemberian obat yang berlebihand dari banyak dokter,termasuk berbagai macam obat puyer yang kontroversial.

Sampai sejauh ini belum ada penelitian berbasis bukti ilmiah,yang secara obyektif melaporkan tentang perbandingan manfaat (efikasi) dan keamanan,antara pemberian obat dalam bentuk puyer dan sirup. Pendapat yang ada selama ini hanya berdasarkan pemikiran,logika dan asumsi saja,yang justru cenderung subyektif dalam memberikan penilaian.Baik obat dalam bentuk sirup maupun puyer,masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sudah lama terjadi kecenderungan adanya pemberian obat yang terlalu banyak dalam satu racikan puyer (polifarmasi),antibiotika generasi terbaru yang belum tentu tepat,dan obat simptomatis yang berefek ganda. Kecenderungan tersebut mencerminkan banyak hal,tetapi yang paling pokok adalah ketidakrasionalan terapi dokter pembuat resep. Beberapa alasan yang sering diutarakan adalah sesuatu yang subyektif,kontroversi,sumir,dan nisbi. Banyak dokter yang takut “kehilangan pasien”,karena dianggap tidak mengikuti trend,bersikap konservatif atau tidak mampu memberikan obat yang ampuh dan mahal. Selain itu,banyak juga dokter yang cenderung memberikan diagnosis yang stigmatis (membuat takut dan berkesan buruk) atau kronis (menahun) seperti asma,TBC,epilepsi atau celebral palsy,yang mengharuskan adanya pemberian obat puyer jangka panjang tanpa terputus. Yang lebih parah lagi adalah pengobatan dokter yang dilandasi logika bisnis medis dan kerjasama dengan industri farmasi.

Dokter memiliki pertimbangan ilmiah medis untuk menentukan bentuk sediaan obat untuk pasiennya,apakah puyer,tablet,syrop,suntikan,tetes,salep ataupun obat hirupan. Racikan obat puyer banyak dipilih dokter untuk anak sakit,sebab harganya murah,dosisnya tepat,bersifat racikan personal (komposisinya merupakan ciri khas dokter tersebut),tidak mudah ditiru dan tidak dapat dibeli sendiri oleh pasien tanpa resep (self medication) yang dapat merugikan dokter.

Kecenderungan dokter dalam meresepkan obat puyer pada pasien anak adalah wajar,logis dan dapat dipertanggung jawabkan,namun demikian ada juga kecenderungan yang keliru,yaitu dengan meracik lebih dari 3 macam obat dalam satu kemasan puyer (polifarmasi) Polifarmasi biasanya terjadi karena keputusan dokter tidak didasari pemahaman yang benar akan proses interaksi antar obat didalam kertas kemasan pembungkus obat puyer,maupun dalam tubuh pasien (farmakokinetik). Polifarmasi sebenarnya lebih menggambarkan “kebingungan” dokter,kurang tajamnya analisa atas berbagai keluhan klinis yang muncul,dan lemahnya integritas ataupun otoritas dokter dalam memutuskan sebuah intervensi medis yang tepat.

Tim inti WHO yang mengurus tentang rasionalitas obat (WHO Care Drug) telah menentukan beberapa indikator  untuk mengukur tingkat rasionalitas peresepan dokter. Beberapa yang perlu diketahui adalah jumlah kunjungan tanpa pemberian resep,persentase obat generik,persentase antibiotika,dan persentase obat dalam formularium dasar. Perlu diingat bahwa tugas dokter yang utama adalah meningkatkan rasa nyaman bagi para pasiennya,bukan mengobati  (task of a doctor;to treat is often,to cure is sometimes,to make comfort is always)

Dalam membantu terciptanya kenyamanan (comfort) pasien anak,dokter tidak bijak seandainya berpikir bahwa dokter harus memberikan pengobatan (terapi farmakologis) untuk semua pasiennya. Seringkali orang tua anak yang sakit sebenarnya hanyalah memerlukan dukungan sosial,termasuk edukasi,pada saat datang ke tempat praktik dokter,sebab sudah memiliki obat yang diperlukan di rumah.

Penyebab lain yang cukup penting untuk ketidakrasionalan terapi dokter adalah kurangnya pengalaman dan pelatihan untuk para dokter muda,sehingga menyebabkan kurangnya keyakinan akan pengobatan yang rasional,meskipun sudah mampu mendiagnosis secara tepat. Selain itu ,kurangnya dukungan dari teman sejawat dokter lain,kurang sistem audit bagi komunitas dokter dan asosiasi profesi (dokter spesialis),informasi sepihak dan bertendensi bisnis dari industri farmasi oleh petugas medical representative (detailer),kurangnya penelitian independen yang tidak memihak,kurangnya pemahaman dokter atas akibat buruk dari resep yang tidak rasional.

dr. FX Wikan Indrarto SpA

Dokter Spesialis Anak di RS Bethesda,Yogyakarta



Topic Yang Berhubungan :

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post


Oil Rig Accidents
Oil Rig Accidents Counter