Proses tumbuh kembang seorang anak,dalam perjalanannya dapat mengalami gangguan perkembangan atau keterlambatan perkembangan.
Ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan hambatan perkembangan.
Yaitu faktor resiko biomedik seperti : prematuritas,infeksi,hambatan pertumbuhan dalam kandungan,kelainan bawaan,dan ibu pengguna obat terlarang.
Faktor resiko lingkungan,dan sosial ekonomi : kemiskinan,pendidikan orang tua yang rendah,ibu terlalu muda,dan riwayat perilaku salah dalam keluarga.
Gangguan perkembangan dapat dideteksi menggunakan perangkat uji tapis atau skrining perkembangan. Uji tapis perkembangan ini dapat dilakukan tenaga kesehatan maupun orang tua anak. Uji tapis oleh orang tua bermanfaat untuk identifikasi sebanyak mungkin anak yang dicurigai mempunyai hambatan dalam perkembangan.
Hasil penilaian perkembangan oleh orang tua dapat menjadi prediktor keterlambatan perkembangan anak. Selanjutnya dilakukan uji tapis oleh tenaga kesehatan yang bertujuan mendeteksi secara lebih terperinci dan sifatnya lebih kompleks. Orang tua merupakan sumber informasi yang penting dan dapat menjadi pelaksana penapisan yang baik.
Beberapa gangguan perkembangan yang mungkin dialami anak adalah kecemasan atau ketakutan,problem tidur,problem makan,problem toilet training,retardasi mental,hambatan perkembangan bahasa,problem sekolah,autisme,problem seksual dan psikosomatik. Semua gangguan tersebut beresiko menimbulkan kecacatan pada anak.
Autisme merupakan gangguan pekembangan pervasif yang ditandai perkembangan abnormal dan interaksi sosial seperti menarik diri,tidak tertarikl dengan orang lain,keterbatasan penggunaan bahasa interaktif seperti bicara dengan komunikasi non verbal dan gangguan sensorimotor seperti berespons tidak konsisten terhadap stimulus.
Gangguan perkembangan pada anak autisme pun bervariasi. Tidak jarang anak mempunyai kemampuan yang baik di satu bidang,tetapi mempunyai kemampuan yang buruk di bidang lain. Terdapat banyak faktor yang diduga menyebabkan autisme . Faktor tersebut adalah faktor orang tua seperti pola asuh,orang tua yang “dingin”,perceraian,anak yang tidak diinginkan,dan lain-lain.
Selain itu faktor sosioluktural yang buruk karena tekanan sosial ekonomi,pengangguran,meningkatnya penyalahgunaan obat-obat terlarang,psikologis karena tidak adanya model untuk pembentukan nilai norma sosial,serta tidak adanya model untuk meningkatkan toleransi dan hubungan interpersonal yang matang.


![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
dok, apakah ada pengaruhnya apabila plasenta terjepit saat hamil?apa bisa menyebabkan anak menjadi ds?terus apa maksudnya ds tapi tidak penuh? apakah bisa seperti anak normal??trima kasih