
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit menahun (kronis) karena gangguan metabolisme. Sampai kini belum ditemukan obatnya,karena yang ada adalah cara mengatur pola metabolisme bagi pengidapnya. Diabetes mellitus disebabkan beberapa faktor,ditandai kadar glukosa darah lebih tinggi dari normal,disertai gangguan metabolisme karbohidrat,lemak dan protei
Penyebab DM antara lain :
- faktor genetik (riwayat orang tua)
- life style (pola hidup)
- wanita yang pernah melahirkan dengan berat badan janin lebih dari 4 kg,dan banyak faktor lain
Karena DM merupakan penyakit kronis dan belum ada obatnya,mengakibatkan biaya perawatan individu sangat tinggi. Selain itu,penyakit DM memberikan komplikasi lebih banyak terhadap organ tubuh dan sistem metabolisme dibanding penyakit kronis lainnya.
Komplikasi tersering adalah katarakta diabetika,gagal ginjal diabetika,strok,hipertensi,dan polyneuritis. Secara detail komplikasi DM dapat digolongkan menjadi dua pokok. Pokok pertama adalah komplikasi akut,diderita kurang dari 1 tahun mengidap DM,misalnya coma hypoglycaemia,coma hyperglycaemia,coma ketoacidosis,coma hyperosmolar,ketosis,acidosis metabolic. Pokok kedua adalah komplikasi kronik didapatkan 1-5 tahun,komplikasi ini antara lain misalnya retinopatia,katarakta,polyneuritis,seperti gatal,nyeri maupun gangguan vascular,misalnya dapat terjadi glomerulonefritis,hypertensi,stroke.
Selain menyebabkan komplikasi organ,diabetes juga menyebabkan komplikasi metabolisme lain. Komplikasi metabolisme pada lemak akan terjadi keadaan lipolisis,dimana untuk mencukupi energi diambil dengan memecah lemak. Pada kondisi seperti ini akan terjadi dua siklus metabolisme. Yang pertama siklus pemecahan lemak menjadi benda keton,dan kedua dikenal dengan metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat. Sehingga pada tubuh terjadi suatu keadaan asidosis.
Langkah bagi penderita DM untuk mengurangi resiko komplikasi adalah mengatur pola hidup dengan mematuhi petunjuk dokter dan diet isiannya. Selain itu,mengatur dan mengetahui berapa kadar glukosanya.
Untuk melakukan kedua hal ini,pengidap DM dapat menggunakan alat Self Home Monitoring Blood Glucose (SMBG). Tetapi walaupun sudah menggunakan SMBG,pengidap DM tetap wajib berkonsultasi dengan dokter dan ahli dietnya secara rutin dan kontinyu.
SMBG adalah sistem deteksi kadar glukosa puasa yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Dengan menggunakan alat ini pengidap dapat mengukur kadar glukosa darahnya setiap waktu. Alat ini dikenal dengan Point Of Care Test (POCT). Sesuai namanya alat ini untuk “menjaga dan merawat”. Dengan POCT orang dapat mengukur kadar glukosa darahnya secara cepat dan sederhana.
Perlu dicermati,cara memilih POCT secara benar. Diantaranya harus tahu metode pemeriksaan dari alat POCT tersebut. Pilih POCT yang menggunakan prinsip pemeriksaan enzimatik. Kemudian pilih POCT yang menggunakan enzim spesifik pendeteksi glukosa. Enzim spesifik tersebut adalah Glucose Dehidrogenase-Nicotinamide Adenine Dinucleotide (GDH-NAD). Enzim spesifik untuk mendeteksi dan memecah glukosa,tidak terpengaruh metabolik lain yang mirip glukose seperti laktose,maltose,galaktose.
Selain menggunakan POCT yang menggunakan enzim GDH-NAD untuk deteksi dan memecah glukosa darah,maka dipilih POCT yang menggunakan Pyrol Quinoline Hydrogen (PQH) untuk menangkap elektron (ion) yang terlepas akibat reaksi glukosa darah dengan enzim GDH-NAD.
Selain monitor glukosa darah secara teratur dan berkala,jangan lupa pemeriksaan laboatorium dini terhadap komplikasi DM. Yang penting juga atur pola hidup sesuai anjuran dokter.


![Validate my RSS feed [Valid RSS]](http://validator.w3.org/feed/images/valid-rss.png)
No comments yet.