Nov
17th

Kelainan Hipertensi Pada Kehamilan

Beresiko kematian Janin dan Ibu

Hipertensi merupakan problema yang paling sering terjadi pada kehamilan. Bahkan,kelainan hipertensi pada kehamilan beresiko terhadap kematian janin dan  ibu. Karena itu,deteksi dini terhadap hipertensi pada ibu hamil diperlukan agar tidak menimbulkan kelainan serius dan menganggu kehidupan serta kesehatan
janin di dalam rahim.
Dokter obstetri dan ginekologi RS Dr Sardjito Yogyakarta Prof dr H Mohamammad Anwar Mmed Sc SpOG menjelaskan,berdasarkan rekomendasi The national High Blood pressure education Program Working Group of high Blood pressure In prequency,kelainan hipertensi dalam kehamilan dibagi dalam empat kategori yakni;

  • hipertensi kronik
  • pre-eklamsia dan klamsia
  • pre eklamsia super imposed hipertensi kronik
  • serta gestational hypertension.

Kelainan hipertensi kronik bila tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mmHg yang terjadi sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20 minggu. Sebaliknya,bila kenaikan  tekanan darah tiba-tiba terjadi setelah kehamilan 20 minggu disebut pre-eklamsia.”Pre-eklamsia terjadi kira-kira 5% dari seluruh kehamilan,10 % pada kehamilan pertama kali, dan 20%-25% pada wanita dengan riwayat hipertensi kronik,” papar dr Mochamad Anwar.
Dijelaskan,dalam riwayatnya pre eklamsia disebut toxemia gravidarum karena diduga adanya toxin di dalam tubuh wanita hamil. Dengan kondisi,tersebut wanita mengalami kejang-kejang atau bengkak (oedema) dan dapat terjadi kematian pada permulaan kehamilan tri semester tiga atau sebelum terjadinya persalinan.
Sehubungan dengan timbulnya hipertensi yang unik dan sulit diterangkan sebab-sebabnya dalam kehamilan,maka toxemia gravidarum disebut prequency induced hypertension (PIH).
Namun demikian istilah PIH masih mengandung aspek kenaikan tekanan darah,sehingga terminologi diubah menjadi hipertensi gestasional (gestasional hipertension).
Menurut dr Mochamad Anwar,hipertensi yang tidak diobati dapat memberikan efek buruk pada ibu maupun janin. Efek kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah wanita hamil akan merusak sistem
vascularasi darah,sehingga mengganggu pertukaran okseigen dan nutrisi melalui placenta dari ibu ke janin.
Hal ini bisa mneyebabkan prematuritas placental dengan akibat pertumbuhan janin yang lambat dalam rahim.
Ironisnya pula hipertensi yang terjadi pada ibu hamil dapat mengganggu pertukaran nutrisi pada janin dan dapat membahayakan ginjal janin.
Selain itu,hipertensi bisa menurunkan produksi jumlah air seni janin sebelum lahir. Padahal,air seni janin merupakan cairan penting untuk pembentukan amnion,shingga dapat terjadi oligohydromnion (sedikitnya jumlah air ketuban).
Dikatakan oleh dr Mochamad Anwar,pada kehamilan gestational hypertension agak berbeda dengan hipertensi kronik. Meskipun sebab utama dari hipertensi dalam kehamilan belum jelas,
tampaknya terjadi reaksi penolakan imunologik ibu terhadap kehamilan di mana janin dianggap sebagai hostile tissue graff reaction.
“Reaksi penolakan imunologik dapat menimbulkan gangguan yang lebih banyak pada tubuh wanita hamil dibanding akibat tingginya tekanan darah,yaitu perubahan kimia total pada reaksi yang tidak
dapat diadaptasi yang dapat menyebabkan kejang dan kematian pada wanita hamil,”
kata pengajar fakultas kedokteran UGM itu.
Karena itu,kata dr Mochamad Anwar mengingatkan,penatalaksamnaan pre eklamsia dan hipertensi gestasional perlu dilakukan dengan tujuan untuk mencegah jangan sampai berlanjut menjadi eklamsia
yang ajan menimbulkan kelainan serius pada ibu dan mengganggu kehidupan serta kesehatan janin dalam rahim.
“Bila didapatkan hipertensi dalam kehamilan sebaiknya segera dipondokkan saja dirumah sakit dan diberikan istirahat total. Istirahat total akan menyebabkan peningkatan aliran darah renal dan utero placental. Peningkatan aliran darah renal akan meningkatkan diuresis (keluarnya air seni),menurunkan berat badan dan mengurangnya oedema.” tuturnya
Pada prinsipnya penatalaksanaan hipertensi ditujukan untuk mencegah terjadinya eklamsia,monitoring unit feto-placental,mengobati hipertensi dan melahirkan janin dengan baik.
“Dan dalam persalinan sangat penting untuk mengontrol tekanan darah,monitoring keseimbangan cairan dan keluarnya air seni,” pungkasnya.

Nov
9th

Seks Tidak Sehat Sebabkan Kanker Serviks

Hubungan seks yang tidak sehat dipercaya dapat menyebabkan penyakit kanker serviks atau lebih dikenal dengan kanker leher rahim. Penyebabnya adalah virus Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini menyebar melalui kontak seksual,dan HPV dapat menyerang semua perempuan di setiap waktu tanpa melihat umur ataupun gaya hidup.

Menurut dr JB Soebroto SpPA,Direktur RS Puri Husada Yogya,penyakit kanker leher rahim yang istilah kesehatannya cervical cancer merupakan kanker yang terjadi pada servik uterus,suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina).

“Banyak wanita yang dengan daya tahan tubuh baik mampu melawan infeksi HPV dengan sendirinya.Namun demikian,terkadang virus ini berujung pada terjadinya penyakit kanker,” papar dr JB Soebroto dalam baksos pemeriksaan deteksi dini terhadap kanker serviks dengan IVA dan Pap Smear baru-baru ini.

Data-data dari departemen kesehatan RI menyebutkan,kanker serviks adalah kanker pembunuh perempuan tertinggi untuk saat ini. Bahkan setiap perempuan selama hidupnya beresiko terkena virus yang menyebabkan kanker serviks,terutama beresiko tinggi bagi:

  • mereka yang merokok
  • melahirkan banyak anak
  • memakai alat kontrasepsi pil dalam jangka waktu lama
  • serta mereka yang terinfeksi HIV/AIDS.

Untuk melakukan deteksi kanker serviks,dapat menggunakan suatu tes yang disebut dengan tes pap smear,sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeksi semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker leher rahim. Pap Smear adalah suatu tes yang aman dan murah serta telah dipakai bertahun-tahun untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim.

Secara umum tanda dan gejala kanker serviks adalah terjadinya pendarahan vagina setelah aktivitas seksual atau diantara masa menstruasi. Tanda lain yang mungkin timbul antara lain hilangnya nafsu makan dan berat badan,nyeri tulang panggul dan tulang belakang,nyeri pada anggorta gerak (kaki), terjadi pembengkakan pada area kaki,keluarnya faces menyertai urine melalui vagina,sehingga teradi patah tulang panggul.

Untuk meminimalkan keganasan serangan kanker serviks,pemeriksaan pap smear tes yang teratur sangat diperlukan guna mengetahui dan mendeteksi adanya kanker serviks pada seorang wanita.

Sep
15th

MENGENAL OSTEOARTRITIS


Dr Aisyah SpRM (KFR)

Osteoartritis (OA) atau yang dikenal oleh masyarakat sebagai pengapuran sendi adalah suatu penyakit yang mengenai lapisan tulang rawan sendi ( joint cartilage ) dan selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan sendi serta nyeri menetap. Pada awalnya nyeri hanya dirasakan tatkala sendi yang terkena menerima beban ( misalnya sendi lutut saat berjalan atau jongkok ), namun selanjutnya bila tidak dilakukan terapi yang tepat, akibat perubahan struktur sendi, terjadi nyeri menetap dan sendi bengkok secara berlebihan, yang berakibat pada ketidakmampuan penderita untuk berjalan seperti orang normal tanpa bantuan alat tertentu. Hal ini sangat disayangkan karena sebenarnya dengan terapi yang tepat, kerusakan sendi dapat dicegah agar tidak menjadi lebih parah.

FAKTOR RESIKO OSTEOARTRITIS

Siapapun dapat terkena penyakit ini. Beberapa orang menjadi lebih berisiko untuk terkena penyakit ini, di antaranya adalah :

  • para lanjut usia,
  • penderita kelainan bawaan pada sekitar persendian,
  • penderita penyakit sendi lain,
  • wanita menopause,
  • overweight ( berat badan berlebih ) atau obesitas,
  • pernah mengalami trauma atau cedera persendian.

Beberapa kebiasaan atau aktivitas yang secara berlebihan membebani sendi juga merupakan factor resiko penting terjadinya penyakit ini. Karena itu, tentara atau atlit yang memiliki kebiasaan mereka melompat tiap hari misalnya, akan lebih beresiko terkena penyakit ini.

BAGAIMANA TERJADINYA OSTEOARTRITIS

Pada keadaan normal, tubuh manusia termasuk sendi akan mengalami kerusakan / aus akibat penggunaan dalam aktivitas sehari - hari. Alhamdulillah proses pernggantian bagian tubuh yang mengalami kerusakan tersebut telah diatur secara periodic sehingga tubuh kita secara terus menerus diperbarui. Seiring dengan pertambahan usia di mana terjadi penurunan kemampuan ini, pada awalnya terjadi ketidakseimbangan antara proses kerusakan sendi yang terjadi dengan kemampuan tubuh untuk memperbaiki. Bila hal ini disertai dengan pembebanan berlebih pada sendi, kerusakan yang terjadi akan berlangsung lebih hebat sampai pada titik di mana tubuh tidak mampu lagi mengatasinya. Nyeri sendi adalah keluhan utama yang paling sering mengganggu aktivitas penderita.

DAPATKAH OSTEOARTRITIS DIOBATI ?

BAGAIMANA REHABILITASI MEDIK MEMBANTU ANDA?

  1. Hindari faktor resiko yang dapat dicegah. Dengan memahami bagaimana perjalanan penyakit ini, maka menghindari beban berlebihan pada sendi menjadi terapi utama. Dokter rehabilitasi medik akan memberikan cara beraktivitas sehari – hari dengan benar agar penyakit ini dapat dicegah atau tidak menjadi lebih parah.
  2. Latihan penguatan otot di sekitar sendi yang bermasalah. Kerusakan sendi lebih lanjut dapat dicegah salah satunya dengan memberikan latihan khusus dengan teknik yang tepat untuk menguatkan otot sekitar sendi. Penguatan otot ini akan mengurangi bahkan menghilangkan nyeri yang diderita.
  3. Pemberian penyangga sendi untuk jangka waktu tertentu. Kadang – kadang perlu diberikan alat bantu khusus untuk membantu penderita, namun perlu diingat bahwa apa yang diberikan haruslah melalui pertimbangan dokter rehabilitasi medik agar tidak terjadi pemakaian alat yang salah bahkan membahayakan penderita.
  4. Pemberian terapi modalitas dan obat -obatan untuk mengurangi nyeri dan peradangan bila ada.

Oil Rig Accidents
Oil Rig Accidents Counter