Oct
26th

Stroke kecil,Masalah Besar

Stroke merupakan masalah kesehatan utama dan menjadi penyakit penyebab kematian nomor tiga serta penyebab kecacatan nomor satu di dunia. Berdasar kenyataan tersebut,komunitas kedokteran yang tergabung dalam World Stroke Organization telah mencanangkan Hari Stroke Sedunia (World Stroke Day) dan diperingati setiap 29 Oktober.

Hari Stroke seduinia dicanangkan untuk memberi peringatan kepada semua orang bahwa stroke dapat dicegah dan diobati. Pencegahan merupakan hal yang sangat penting dan terutama berfokus pada pengendalian faktor resiko seperti hipertensi,diabetes,merokok,dan sebagaimnya.

Menurut direktur RS Bethesda Yogyakarta,dr Sugianto Adisaputro SpS M.Kes PhD,pada peringatan hari stroke Sedunia 2008 ini,fokusnya pada little stroke big troubles atau stroke kecil membawa masalah besar. “Tema ini diambil untuk menggambarkan stroke sub klinis yang berujung pada gangguan memori.Penyumbatan di otak tidak menyebabkan gejala kelumpuhan yang akut,namun merupakan proses yang berlangsung kontinyu ke arah kepikunan,” ujar dr Sugianto.

Penyumbatan yang bersifat demikian disebut dengan silent (subclinical) stroke. Stroke sub klinis ini terjadi 5 kali lebih sering daripada stroke dengan gejala neurologis yang nyata. Gejala yang muncul terutama adalah perubahan kepribadian,gangguan memori,dan emosi. Gejala ini sering kalo tidak disadari secara dini dan berujung pada gangguan kognitif atau demensia (pikun) vaskuler.

Penelitian epidemiologi menunjukan bahwa kejadian stroke sub klinis (silent brain infarction) jauh lebih tinggi daripada stroke dengan gejala yang nyata. Penelitian pada populasi usia 62 tahun (naik-turun 9 tahun) memperlihatkan bahwa kejadian stroke subklinis adalah 1 diantara 10 individu. Sumbatan yang kecil pada umumnya telah dapat terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan neuropsikologi yang sangat teliti.

Hal ini sukar dilakukan dalam praktek sehari-hari lkarena pada umumnya tidak ada gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Kewaspadaan akan stroke sub klinis haruslah ada bila berhadapan dengan pasien yang memiliki faktor resiko vaskuler multiple seperti hipertensi,disiplidemia,merokok dan diabetes.

Bila diabaikan,stroke sub klinis ini akan berlanjut menjadi stroke klinis dengan gejala neurologis yang berat atau demensia vaskuler. Stroke sub klinis pada umumnya menyerang substansia alba/putih di otak. hal ini dapat menjadi petunjuk klinis yang sangat penting. Gangguan pada substansia alvba akan memunculkan gejala dalam hal gangguan perilaku,pengambilan keputusan,gangguan memori jangka pendek,dan bahkan depresi. “Adanya gejala terhadap berbagai hal tersebut harus diwaspadai sebagai bentuk manifestasi gejala stroke sub klinis,”pesan dr Sugianto Adisaputro.

Skrining terhadap gangguan memori dan aspek kognitif lainnya,jelas dr Sugianto,seyogyanya dikerjakan pada pasien dengan faktor resiko vaskuler yang tinggi. Banyak perangkat skrining gangguan memori sederhana yang dapat dikerjakan dalam waktu 5-10 menit. Alat ukur yang dapat dipakai yakni Mini Mental state Examination (MMSE),Short Blessed test,Time and Change Test,dan sebagainya.

Adanya gangguan pada satu aspek kognitif dari test tersebut harus diwaspadai. Pemeriksaan neuropsikologi lengkap seyogyanya dikerjakan pada pasien-pasien yang terjaring dalam skrining.

Pemeriksaan pencitraan radiologi dengan CT scan atau MRI dikerjakan pada pasien yang terjaring dalam pemeriksaan neuropsikologi. Hal ini penting untuk mendeteksi adanya sumbatan kecil, dan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis banding. Pelacakan yang lebih teliti harus pula dikerjakan untuk mencari faktor resiko vaskuler yang penting. Pengobatan terutama dilakukan untuk faktor resiko vaskuler yang terdeteksi. Pada kasus dengan stroke infark sub klinis dapat ditambahkan antiplatelet misalnya aspirin dosis rendah.

Diungkapkan dr sugianto,saat ini masih banyak fasilitas kesehatan di Indonesia yang tidak memiliki pemeriksaan penunjang pemncitraan radiologi (CT Scan atau MRI). Pada kondisi demikian, tentulah lebih baik berfokus pada upaya pencegahan. Kewaspadaan akan berbagai faktor resiko vaskuler haruslah ditingkatkan. Pada banyak acara kesehatan untuk lanjut usia,terungkap bahwa hipertensi seringkali tidak terdeteksi dan tidak disadari. Pada kelompok yang terdiagnosis hipertensi kurang dari separuhnya yang berobat secara rutin. Hal ini mudah dipahami karena hipertensi tidaklah memberikan gejala. Kondisi demikian sesuai sifat hipertensi sebagai pembunuh diam-diam (silent killers). Banyak pasien yang datang berobat ketika kerusakan vaskuler telah parah.

“Kewaspadaan akan bahaya berbagai faktor resiko vaskuler haruslah terus ditingkatkan. Edukasi kepada pasien dan masyarakat luas harus pula digalakkan. Upaya berhenti merokok harus ditekankan pada pasien yang telah memiliki faktor resiko vaskuler yang lain. Pemeriksaan laboratorium untuk melacakĀ  disiplipidemia dan diabetes dikerjakan pada kasus-kasus yang terpilih. Penemuan dan penatalaksanaan yang tepat akan berbagai faktor resiko tersebut diharapkan dapat menurunkan angka kejadian stroke klinis dan sub klinis,”paparnya.

Pemeriksaan skrining gangguan memori dapat dikerjakan dengan relatif mudah dan cepat.Pemeriksaan tersebut seharusnya dikerjakan pada pasien dengan faktor resiko vaskuler yang jelas.

Oct
20th

Suka Marah,Gampang Kena Stroke

Apakah anda,saudara atau keluarga anda termasuk orang yang suka marah-marah?Kalau iya,sebaiknya mulai saat ini hentikan saja kebiasaan buruk itu. Apalagi,dario hasil studi kesehatan menyebut bahwa kebiasaan marah dapat merangsang kinerja jantung menjadi tidak stabil,bahkan cenderung lebih cepat berpotensi seseorang terkena stroke.
“Secara sederhana,pada orang yang marah-marah akan terjadi perubahan kinerja jantung dalam tubuhnya,kerja jantunmg menjadi lebih cepat dan kuat. Kondisi denyut jantung yang terganggu berdampak pada penyempitan pembuluh darahdi otak dan beresiko dapat mengakibatkan serangan penyakit stroke,”ujar dr H Agus taufiqurrahman MKes dari RS PKU Muhammadiyah,Yogyakarta.
Dijelaskan,stroke merupakan penyakit pembuluh darah otak yang ditandai kematian jaringan otak.Hal ini terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini dikarenakan adanya sumbatan,penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.
Berdasarkan informasi dari Departemen kesehatan,secara umum penyakit stroke terbagi menjadi 2 jenis,yaitu stroke iskemik dan stroke hemorroagik.
Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau seluruhnya terhenti. Sedangkan stroke hemorragik adalah stroke yang disebabkan pecahnya pembuluh darah otak.

Tanda dan Gejalanya
Dilihat dari lokasinya di tubuh,gejala-gelaja stroke terbagi menadi beberapa bagian.Bagian sistem saraf pusat ditandai dengan melemahnya otot (hemiplegia),rasa kaku,dan menurunnya fungsi sensorik.
Untuk bagian batang otak ditandai dengan menurunnya kemampuan membau,mengecap,mendengar dan melihat parsial atau keseluruhan.
Selain itu,daya refleks menurun,ekspresi wajah terganggu,pernafasan dan detak jantung terganggu,lidah menjadi lemah,daya ingat menurun,mengalami kebingungan.Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam,dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack,(TIA) dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke.
Untuk faktor resiko medis antara lain hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi),kolesterol aterosklerosis(pengerasan pembuluh darah),ganggguan jantung,diabetes,riwayat stroke dalam keluarga,dan migrain.Sedang faktor resiko perilaku antara lain merokok (aktif maupun pasif),makanan tidak sehat (junk food,fast food),alkohol,kurang olahraga,mendengkur,kontrasepsi oral,narkoba dan obesitas.
“Pemicu stroke pada dasarnya adalah suasana hati yang tidak nyaman (marah-marah),terlalu banyak minum alkohol,merokok dan senang mengkonsumsi makanan yang berlemak,”kata dr Agus Taufiqurrahman. Sementara dampak dari stroke antara lain berupa bermasalahnya dalam berpikir dan mengingat,menderita depresi,mengalami kesulitan bicara,menelan,membedakan kanan dan kiri.
Karena ancaman stroke yang bisa merenggut nyawa,bahkan resiko derita stroke berkepanjangan,maka hidup bebas tanpa stroke menjadi dambaan semua orang. Tak heran semua orang berupaya untuk mencegah stroke atau mengurangi faktor resiko dengan pola hidup sehat,olahraga teratur,serta menghindari stress.

Jun
11th

MENGENAL STROKE

Stroke merupakan masalah kesehatan yang besar, menduduki urutan kedua sebagai penyebab kematian di dunia. Selain kematian, masalah utama lain akibat stroke adalah kecacatan, dan di antara penyakit lain, stroke adalah penyebab utama kecacatan pada usia dewasa. Pemulihan pasien (penderita) paska serangan stroke sering disertai dengan kecacatan, berlangsung lama dan sulit pulih seperti semula, sehingga sangat mempengaruhi kemandirian penderita dalam aktivitas sehari-hari. Ditambah lagi dengan depresi yang dialami, menyebabkan penderita maupun keluarga akhirnya bersikap pasif.

Perlu diingat bahwa penurunan aktivitas fisik menyebabkan penurunan fungsi normal tubuh, yang pada akhirnya menyebabkan masalah kesehatan terutama dibidang penyakit vaskuler. Bagi penderita stroke, ini berarti resiko terjadinya stroke ulangan meningkat. Untuk itu diperlukan upaya pencegahan serangan stroke berulang dengan memperhatikan ketidaksempurnaan pemulihan kondisi pasien stroke sendiri.

Peran rehabilitasi bagi penderita stroke bukan hanya membantu mereka agar dapat kembali mandiri setelah mengatasi hambatan fungsionalnya namun juga pada jangka panjang membantu mereka mengontrol faktor resiko yang ada. Untuk itu diperlukan program rehabilitasi yang terarah sesuai tahap perkembangan penyakit dan proses pemulihannya

Stroke adalah suatu kumpulan gejala akibat gangguan pembuluh darah otak, dapat merupakan akibat obstruksi ( pembuntuan ) pembuluh darah atau perdarahan di dalam dan di sekitar jaringan otak. Gejala yang timbul sesuai dengan letak pembuluh darah dan organ otak yang terkena, dan ini sangat mempengaruhi program rehabilitasi yang akan kita berikan pada penderita.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Framingham, faktor resiko utama terjadinya stroke adalah hipertensi ( tekanan darah tinggi ). Seorang penderita hipertensi memiliki resiko terkena stroke 7 kali lebih tinggi dibanding orang normal. Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian terbanyak pada penderita stroke. Sebagai faktor resiko yang dapat dikendalikan, amat penting dilakukan upaya kontrol terhadap hal tersebut untuk mengurangi faktor resiko stroke atau stroke ulangan. Masalah lain adalah kecenderungan pasien stroke untuk menjadi kurang aktif (imobilisasi) oleh karena kelemahan anggota gerak atas maupun bawah sehingga menyebabkan penurunan endurance.


Oil Rig Accidents
Oil Rig Accidents Counter